Dolanan Lemah - Tektonika Tanah

Ideas
1 year ago

Observasi, intervensi dan elaborasi, proses yang dilakukan CC Studio Semarang mengeksplorasi potensi keragaman bentuk batu bata yang 'mandeg' sejak jaman Majapahit.

Education Pedagogy

 Kemandegan

Tanah (Lemah) sebagai material memiliki sejarah yang sama tuanya dengan peradaban manusia, tidak terkecuali di kepulauan Nusantara.  Melihat perkembangannya hingga saat ini memunculkan hal yang begitu menggelitik. Lewat sarkas yang dilontarkan salah seorang peneliti teknologi bangunan di ITB, “batu bata yang kita pakai tidak ada bedanya dengan batu bata di era Majapahit”.  Saat peradaban dan teknologi yang semakin maju, tanpa disadari manusia masih menggunakan teknologi yang tergolong primitif untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan. Kita saat ini masih memakai teknik yang tidak jauh beda dengan yang dipakai nenek moyangnya. Kita masih membuat adonan dari tanah, mencetak lalu membakarnya. Bahkan dari segi desain pun tidak begitu berkembang. Sebagai contoh bentuk batu bata yang selalu berbentuk balok dari dulu hingga sekarang.

Bentuk olahan tanah liat yang selalu menghasilkan batu bata berbentuk balok, seolah terlihat sebagai sebuah 'kemandegan'. Bentuknya yang paripurna selama berabad-abad seperti tidak menyisakan ruang berkreasi bagi manusia. Meminjam sudut pandang Romo Mangun, sebuah bentukan /citra tak akan pernah lepas dari guna/fungsinya. Bisa jadi proses pembentukan tanah liat menjadi batu bata sudah teruji dan mencapai puncaknya, seperti halnya desain roda yang akan selalu bundar sehingga tidak memerlukan perdebatan lagi. Oleh karenanya masyarakat hanya perlu menduplikasi berulang kali sampai saat ini.

Agenda

Untuk menjawab isu diatas, peserta studio unit semarang diajak untuk melakukan intervensi dan reinterpretasi tentang tektonika tanah sebagai material dasar pembentuk bangunan.  Agar diperoleh pemahaman utuh tentang tektonika material tersebut, peserta akan dilibatkan dalam proses pengolahan bahan dasar sampai menjadi bentuk akhir dengan melalui beberapa tahapan proses, observasi lapangan, pendataan, pengembangan desain sampai pembuatan prototype. Studio ini akan melihat seberapa jauh intervensi desain terkait dengan pemahaman context oleh masing-masing peserta.

Proses

Proses pembelajaran mengenai tektonika tanah ini terbagi atas tiga bagian kegiatan utama, yaitu observasi, intervensi dan elaborasi. 

Kegiatan observasi berlangsung selama dua hari, setelah sebelumnya dilaksanakan proses bootcamp untuk mengawali diskusi mengenai pendalaman brief dan tentang hal apa saja yang akan dilakukan sepanjang studio. Ada dua bentuk observasi yang diarahkan kepada peserta studio dalam tahap ini. Pertama adalah observasi terhadap proses pembentukan material berbahan dasar tanah (batu bata, genteng dan keramik ). Kedua adalah observasi terhadap beberapa fenomena lain yang ada di kehidupan alam sekitar, dimana tanah menjadi bagian penting bagi makhluk hidup tertentu dalam membangun tempat tinggalnya.

Observasi mengenai proses pembuatan material berbahan dasar tanah dilakukan pada beberapa tempat pembuatan batu bata, hal ini dimaksudkan agar peserta studio memahami secara utuh dasar tektonika tanah melalui proses melihat, menyentuh bahkan mencoba langsung proses yang pada umumnya dilakukan dalam pembuatan material batu bata, sebelum mempertanyakan apa saja yang dapat dilakukan untuk melahirkan bentuk material baru dengan memahami tektonika dari tanah tersebut.

Observasi yang kedua, peserta studio juga diminta sembari memperhatikan apa saja yang ada di alam dan kehidupan sekitar dengan membawa satu pertanyaan bahwa apakah tektonika tanah ini dapat dipelajari dari makhluk hidup lain, atau fenomena lain yang menggantungkan diri pada tanah sebagai material dasar untuk hidup atau membangun tempat tinggalnya?

Metodologi yang digunakan pada tahap ini, peserta studio diminta mencatat berbagai macam pertanyaan yang muncul di benak masing-masing selama melakukan proses observasi ini. Pertanyaan ini akan digunakan sebagai bahan dalam diskusi alur pikir pada tahap selanjutanya sebelum masing-masing melakukan intervensi.

Beberapa hal menarik yang ditemukan pada tahap ini adalah keragaman material dasar batu bata berpengaruh terhadap kekuatan batu bata itu sendiri. Waktu, cara menyusun dan sistem pembakaran yang tepat juga menentukan kualitasnya. Bata yang dibakar terlalu lama akan mengembang, menghasilkan bentuk yang tidak seharusnya namun disisi menghasilkan bunyi yang lebih nyaring dari batubata standar.

Kegiatan intervensi berlangsung selama dua hari, yang difokuskan pada kegiatan diskusi didalam studio. Topik pembahasan adalah berbagai hal yang diperoleh selama observasi berupa hasil pengamatan maupun pertanyaan kritis. Hasil diskusi dilanjutkan dengan penyusunan diagram proses pembentukan material berbahan dasar tanah untuk menentukan pada tahapan mana intervensi dapat dilakukan. Kegiatan penyusunan diagram proses ini menjadi menarik karena ditengah pembahasan terjadi dialog mengenai berbagai kemungkinan intervensi yang dapat terjadi pada setiap tahapan proses, kemungkinan membolak balik proses, ataupun kemungkinan untuk menyelipkan proses lainnya dalam satu rangkaian proses. Banyak pertanyaan kritis baru yang muncul, mengapa bahan bangunan hanya terbatas pada batu bata?, mengapa bentuk batu bata dan cara menyusunnya harus seperti yang terlihat saat ini?, apakah kemudian mungkin tanpa tanah dibentuk menjadi batu bata terlebih dahulu, tanah langsung dibentuk menjadi suatu bangunan dan baru kemudian tanah yang sudah berbentuk bangun tersebut dijemur dan lalu diperkuat dengan dibakar seperti halnya proses dalam pembuatan batu bata?, dan beberapa pertanyaan konyol lainnya dicatat dalam tahap ini.

Hasil yang diperoleh pada tahap ini adalah pembagian tiga grup ‘dolanan lemah’ berdasarkan pada tiga bentuk material dasar tanah yang akan diintervensi, yaitu pasta, adonan dan blok. Pembelajaran tektonikanya dimulai dari memahami karakter material yang berbeda satu sama lain. Namun ketiganya bermuara pada hal yang sama mengenai bagaimana material tersebut diproses, dibentuk dan disusun ulang. Grup pasta melakukan intervensi pada proses penyusunannya berdasarkan biomimetic sekelompok rayap  membangun tempat tinggalnya. Pertanyaan kritisnya adalah Grup adonan melakukan intervensi proses penyusunan dengan metode primitive method. Intervensi yang dilakukan adalah mencari metode lain. Grup block melakukan intervensi pada proses cetak dan sistem penyusunannya.

Tahap terakhir yaitu elaborasi yang berlangsung selama lima hari terakhir ini merupakan proses “dolanan lemah” sesungguhnya.  Setiap grup menguji coba setiap intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses uji coba terjadi pada tahapan ini  sebagaimana pengetahuan lokal sebelumnya mengenai tektonika tanah juga diperoleh melalui meniru, mencontoh, dan bereksperimen (mencoba-coba). Praktek sehari-hari yang didapat dari pengalaman trial & error tersebut lebih bersifat pengetahuan empiris atau bukan teoritis, namun diharapkan pada tahapan ini peserta studi mampu merumuskan pengetahuan baru yang dapat dijadikan dasar teori baru. Elaborasi grup pasta adalah menggunakan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh sekelompok rayap.

Menyusun pasta satu demi satu membentuk ruang cerobong.  Namun dengan intervensi proses membakar diantara beberapa susunan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat hubungan/kaitan antara butiran pasta yang satu dengan lainnya dengan sistem tanpa sambungan, melainkan dengan melelehkan dan kemudian dikuatkan menjadi satu sambungan yang utuh. Hanya saja pembelajaran tektonika yang diperoleh pada elaborasi ini belum sampai pada batas sejauh apa bentuk susunan dapat diciptakan dengan cara seperti ini.

Elaborasi grup adonan adalah dengan menguji coba sistem primitive method yang pernah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat di masa lampau yang diintervensi dengan metode konstruksi baru. Salah satu caranya adalah penggunaan material balon sebagai kerangka penyusun bentuk ruang yang dilakukan pada tahap pertama.  Adonan kemudian disusun dengan cara primitif mengikuti bentuk balon yang telah dibuat. Proses dilanjutkan dengan metode yang sama yaitu, dijemur sampai waktu yang cukup dan kemudian bentuk akhir tersebut (bangunan) sengaja dibakar agar diperoleh perkuatan sambungan seperti halnya batu bata.

Berdasarkan pada proses elaborasi ditemukan beberapa catatan pembelajaran. Proses elaborasi grup block cukup rumit. Pertama diawali dengan menguji coba beberapa komponen material dasar yang akan digunakan untuk membuat block tanah, mencari kemungkinan komponen terbaik yang digunakan untuk menghasilkan blok tertipis dengan kekuatan yang cukup memadai. Kemudian dilanjutkan pada pembuatan cetakan dengan berbagai macam bentuk berdasarkan tujuan akhir yang berbeda-beda. Ada yang bertujuan membuat suatu bentuk yang dapat dgunakan sebagai penyaring aroma, ada yang dibuat khusus untuk menghasilkan bunyi, ada yang dibuat untuk mengatur sirkulasi udara. 

Namun pada akhirnya elaborasi grup block ini tetap memiliki tuujuan akhir yang sama yaitu tentang bagaimana sistem sambungan yang harus dipikirkan antara satu block dengan block lainnya untuk menghasilkan sistem perkuatan tanpa sambungan. Satu sistem yang menarik ditemukan dalam grup ini adalah menggunakan sistem tetris logic, dimana bentuk dan sistem penyusunan menggunakan analogi permainan tetris berdasarkan berbagai pengolahan bentuk modular yang disusun satu sama lain. Perkuatan sambungannya hanya mengandalkan  gaya gravitasi dan berat bebannya sendiri. 

Kesimpulan Pembelajaran

Tantangan terbesar yang dihadapi pada pembelajaran kali ini adalah karena sifatnya yang “tangible”. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, dimana materi pembelajarannya lebih bersifat “intangible”. Kondisi yang ada adalah sebagian besar peserta studio terbiasa bekerja dengan peralatan teknologi (hardware laptop, software) dan terbiasa menghasilkan produk dalam bentuk ilustrasi gambar dengan menggunakan software tertentu.

Sementara itu kenyataannya adalah, peserta studio harus menghadapi tanah, sebagai materi pembelajaran yang harus disentuh dan dirasakan langsung untuk mendapatkan pemahaman tektoniknya secara utuh. Sehingga kesulitan terbesar yang dihadapi adalah mengubah pola pikir sebagian besar peserta studio untuk ‘BERANI KOTOR’. 

Sepanjang proses kegiatan sudah beberapa kali peserta studio diingatkan untuk melepaskan diri dari komputer dan situs pencarian di dunia maya, untuk menemukan pembelajaran langsung dari material yang harus diproses, dibentuk dan disusun ulang. Namusn hasilnya tidak mengecewakan, meskipun waktu yang tersedia cukup terbatas karena lebih banyak dihabiskan untuk merubah pola pikir di awal kegiatan. Perlu pendalaman lebih lanjt dari apa yang telah ditemukan dari pembelajaran kali ini. Pada akhirnya proses pembelajaran ini telah membuktikan bahwa pada dasarnya : 

“BERANI KOTOR ITU BAIK… !!!”

  

 

Related
168 Comments
A
Login to leave a comment. Sign In ?